Peran Audit Energi dalam Menentukan Waktu Overhaul

Peran Audit Energi dalam Menentukan Waktu Overhaul

Deskripsi :

Waktu operasional menentukan kapan overhaul boleh dilakukan. Audit energi menunjukkan apakah pelaksanaannya sepadan dengan biayanya.

Overhaul adalah pekerjaan pemeliharaan besar yang menuntut mesin dihentikan dan dibongkar sampai ke bagian dalamnya. Komponen yang aus diukur, diperbaiki, atau diganti, lalu mesin dirakit kembali dan diuji ulang. Pekerjaannya berlangsung beberapa minggu, menyerap biaya besar, dan menghentikan produksi selama pelaksanaannya.

Keputusan overhaul kerap muncul saat penyusunan anggaran tahunan. Mesin sudah menempuh puluhan ribu jam operasi, konsumsi bahan bakarnya naik, dan tim pemeliharaan harus memilih antara menjalankan overhaul, menundanya, atau melanjutkan pembersihan rutin.

2 pilihan ekstrem sama-sama dapat merugikan. Overhaul yang terlalu awal mengeluarkan dana besar untuk mesin yang masih sehat. Overhaul yang terlalu lambat membiarkan bahan bakar terbuang setiap jam operasi.

Tingginya jam operasional belum tentu menjadi faktor utama untuk memutuskan overhaul

Sebagian besar jadwal overhaul disusun berdasarkan rekomendasi berbasis equivalent operating hours (EOH) atau siklus kalender. Angka tersebut penting sebagai pagar keselamatan dan disusun untuk kondisi pemakaian rata-rata. Mesin di lapangan punya kualitas udara masuk, pola pembebanan, mutu bahan bakar, dan riwayat perawatan yang masing-masing berbeda. Sehingga terdapat kemungkinan 2 unit dengan jam operasi yang sama dapat jauh berbeda kesehatannya.

EOH bersandar pada catatan waktu, sedangkan audit energi bersandar pada hasil pengukuran. Audit energi adalah pemeriksaan sistematis atas cara sebuah fasilitas menggunakan energi, dalam ruang lingkup yang disepakati lebih dahulu. Hasilnya menunjukkan berapa banyak energi yang terbuang, di mana letak pemborosannya, dan berapa peluang penghematan yang bisa diambil beserta nilai rupiahnya. Cakupannya luas, mulai dari bangunan gedung, proses produksi di pabrik, sampai peralatan utama pembangkit seperti turbin, boiler, dan kompresor. Untuk keperluan menimbang overhaul, ruang lingkupnya dipersempit pada peralatan yang sedang dipertimbangkan tersebut.

Kerangka acuannya tersedia pada SNI ISO 50002-1 tahun 2025 yang menggantikan ISO 50002 tahun 2014, dengan ISO 50002-2 untuk bangunan gedung dan ISO 50002-3 untuk proses industri. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2023 tentang Konservasi Energi juga mengenal Audit Energi Berstandar Investasi atau investment-grade energy audit, yaitu audit rinci untuk menilai prospek penghematan sebelum dana dikeluarkan.

 

3 output audit energi yang menunjang keputusan overhaul

  1. Jarak mesin dari kondisi acuannya
    Kinerja saat ini dibandingkan dengan hasil uji serah terima atau uji setelah overhaul terakhir, memakai indikator seperti heat rate, konsumsi bahan bakar spesifik, atau konsumsi energi spesifik per satuan produk.
  2. Letak sumber kerugiannya
    Neraca energi dan neraca massa memecah kerugian total ke tiap bagian, dari saringan udara masuk, kompresor, jalur gas panas, penukar panas, sampai kondensor dan isolasi termal.
  3. Nilai rupiah dari selisih tersebut
    Penurunan kinerja diterjemahkan menjadi biaya bahan bakar tambahan, potensi kehilangan produksi, dan emisi gas rumah kaca (GRK) yang menyertainya.

 

Dua jenis penurunan kinerja

Mesin melemah karena 2 sebab, yaitu kotor dan aus. Kotoran dapat hilang dengan pencucian, sedangkan keausan hanya hilang dengan penggantian komponen, dan itu berarti mesin harus dibongkar. Sebagai gambaran, turbin gas yang sudah menyala sekitar 20.000 jam, kira-kira 2 tahun pemakaian penuh, umumnya kehilangan sekitar 5% daya keluaran dan butuh sekitar 2,5% lebih banyak bahan bakar. Sekitar 2/3 kehilangan tersebut berasal dari kompresor.

Kotor

Sudu kompresor berselaput debu, saringan udara tersumbat, pipa penukar panas berkerak. Semuanya bisa dibersihkan dengan water wash atau pembersihan kimia.

Aus

Celah ujung sudu melebar, permukaan sudu terkikis, seal bocor. Semuanya diharuskan mengganti komponen, yaitu lingkup overhaul.

 

Contoh gejala lapangan dan yang perlu dilakukan

Gejala yang terpantau

Asumsi penyebabnya

Jenis

Yang perlu dilakukan

Tekanan udara keluar kompresor menurun meski beban mesin sama

Sudu kompresor berselaput debu

Kotor

Cuci kompresor saat mesin berhenti

Konsumsi bahan bakar tetap tinggi walau mesin sudah dicuci bersih

Ujung sudu terkikis dan celahnya melebar

Aus

Masukkan ke rencana overhaul

Suhu keluaran kondensor lebih panas daripada biasanya

Pipa pendingin berkerak atau ada udara yang masuk

Kotor

Bersihkan pipa dan periksa kebocoran

Turbin membutuhkan uap lebih banyak untuk daya yang sama

Seal aus dan sudu berlapis endapan

Kotor dan Aus

Masukkan ke rencana overhaul

 

Ilustrasi untuk menghitung nilai kerugian

Kerugian tahunan = kenaikan heat rate × produksi tahunan × harga energi bahan bakar

Dengan biaya overhaul Rp 20 miliar dan asumsi pemulihan 70%, manfaat tahunannya sekitar Rp 5,9 miliar dan waktu balik modal sederhana di bawah empat tahun. Angka ini hanya ilustrasi saja.

Asumsi pemulihan sebaiknya dijaga secara konservatif. Studi pada satu unit pembangkit listrik tenaga uap mencatat gross turbine heat rate turun dari 7.661,68 kJ/kWh menjadi 7.570,63 kJ/kWh setelah overhaul, sementara efisiensi turbin tekanan tinggi justru turun tipis karena sebagian degradasi tidak terselesaikan oleh inspeksi sederhana.

 

Kebutuhan melakukan audit energi

Angka konsumsi bahan bakar di ruang kendali belum bisa langsung dipakai sebagai dasar keputusan. Hal tersebut dikarenakan nilainya dipengaruhi oleh suhu udara masuk, tekanan sekitar, kelembapan, dan tingkat beban saat pengukuran. Audit energi mengoreksi pengaruh tersebut terhadap kondisi acuan, lalu menerjemahkan hasilnya menjadi besarnya penurunan kinerja, letak sumbernya, dan nilai rupiahnya.

 

Pendampingan Audit Energi

Sebagai konsultan lingkungan dan energi, Enthalphy hadir untuk memberikan pendampingan audit energi yang optimal. Pendampingan Audit Energi melingkupi seluruh tahapan audit energi dari pengumpulan data, survei lapangan, analisis teknis, hingga pemaparan rekomendasi kepada mitra. Setiap tahapan menghasilkan dokumentasi terstruktur yang dapat langsung digunakan sebagai inventarisasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK), dasar pengambilan keputusan investasi efisiensi energi, dan bahan pelaporan PROPER.

Ruang lingkup pendampingan audit energi:

  1. Penetapan Ruang Lingkup
    Penetapan tujuan, ruang lingkup, dan sasaran pekerjaan audit dilakukan sebelum proses survei lapangan dimulai. Pada tahap ini disepakati juga level kedalaman audit (Level 1, 2, atau 3) sesuai dengan kebutuhan dan skala fasilitas mitra.
  2. Persiapan Perangkat Audit dan Pengumpulan Informasi Umum Fasilitas
    Pengumpulan profil umum fasilitas termasuk struktur manajemen, deskripsi proses produksi, dan dokumentasi sistem energi eksisting.
  3. Survei Lapangan: Pengumpulan Data Sekunder dan Data Primer
    Data sekunder historis 5 tahun terakhir meliputi data pemakaian energi listrik, bahan bakar, data produksi (throughput), Single Line Diagram kelistrikan, Diagram Neraca Energi, dan data spesifikasi peralatan (Furnace, Dryer, Crusher, Pompa, Kompresor, Air Conditioning/AC, dll.). Data primer dikumpulkan melalui observasi dan pengukuran langsung di titik penggunaan energi, contohnya seperti berikut:
    1. Pengguna Energi Termal seperti kiln, boiler, dryer, dan furnace;
    2. Pengguna Energi Listrik termasuk Sistem Udara Kompresi, office, dan utilitas gedung;
    3. Pengukuran Kualitas Daya Listrik (power quality, power factor, harmonics); serta
    4. Pengukuran Kualitas Pencahayaan dan Pengkondisian Ruangan.
  4. Verifikasi Data
    Validasi dan penyesuaian seluruh data yang telah dikumpulkan. Pada tahap ini juga dilakukan evaluasi pelaksanaan rekomendasi dari hasil audit sebelumnya apabila tersedia, sebagai dasar analisis perubahan kinerja energi dari waktu ke waktu.
  5. Analisis Intensitas Energi dan Evaluasi Performa Peralatan
    Data tervalidasi dikuantifikasi untuk menghasilkan neraca energi fasilitas terkini, menghitung Nilai Intensitas Konsumsi Energi (IKE) dan Specific Energy Consumption (SEC) per unit produksi, menetapkan Energy Performance Indicator (EnPI), serta mengevaluasi efisiensi operasional peralatan pengguna energi utama. Pemetaan area prioritas perbaikan dilakukan berdasarkan potensi dampak dan kelayakan implementasinya.
  6. Identifikasi Potensi Konservasi dan Rekomendasi Penghematan Energi
    Seluruh temuan lapangan dianalisis untuk mengidentifikasi peluang efisiensi energi secara kuantitatif. Setiap rekomendasi disusun dengan estimasi potensi penghematan dan dikategorikan berdasarkan tingkat biaya implementasi, seperti tanpa biaya (no cost), biaya rendah (low cost), biaya menengah (medium cost), dan biaya tinggi (high cost).
  7. Penyusunan Laporan Akhir Audit Energi
    Laporan audit final memuat hasil analisis lengkap, neraca energi, penilaian kondisi manajemen energi eksisting, matriks pengelolaan, dan rekomendasi program efisiensi yang diprioritaskan.

Output pendampingan audit energi

  • Specific Energy Consumption (SEC) atau Intensitas Konsumsi Energi (IKE)
  • Penggunaan Energi Termal
  • Sistem Udara Kompresi
  • Potensi Efisiensi Energi
  • Energy Performance Indicator (EnPI) atau indikator kinerja energi
  • Penggunaan Energi Listrik
  • Sistem Manajemen Energi
  • Benchmarking

 

Konsultasikan Kebutuhan Audit Energi Anda Sekarang!

Klik untuk membaca flyer layanan Enthalphy!

 

Artikel Lainnya

Our Sincere Thanks to Our Client

Let’s Get Your Project Started!

Contact With Us
Gambar Mobile Gambar Desktop

Let’s Get Your Project Started!

Contact With Us