Akurasi Estimasi 3 Level Audit Energi

Akurasi Estimasi  3 Level Audit Energi

Deskripsi :

Laporan audit energi memuat dua angka yang saling terkait. Angka pertama adalah potensi penghematan energi per tahun. Angka kedua adalah rentang deviasinya, yang biasanya ditulis sebagai ±30% atau ±15%. Angka kedua menjelaskan seberapa dekat angka pertama terhadap kenyataan. Besarnya deviasi berbeda-beda tergantung pada level audit yang dijalankan. Berikut merupakan penyebab perbedaannya, dan cara menggunakannya untuk memilih level audit.

Arti angka deviasi

Deviasi adalah jarak antara angka perkiraan dan angka yang terealisasi. Auditor mencantumkannya karena estimasi penghematan disusun sebelum rekomendasi dijalankan, sehingga hasil akhirnya belum dapat dipastikan. Contohnya, auditor menyimpulkan bahwa sebuah pabrik dapat menghemat Rp1 miliar per tahun dengan deviasi ±50%. Kesimpulan tersebut berarti penghematan yang benar-benar terjadi kemungkinan berada di antara Rp500 juta dan Rp1,5 miliar.

Membandingkan lebar rentang

Angka Rp1 miliar dalam contoh di atas tetap sama pada ketiga level audit. Yang berubah adalah lebar rentang di sekitarnya.

Pada Level 1, hasil yang mungkin terjadi membentang sejauh Rp1 miliar, dari Rp500 juta sampai dengan Rp1,5 miliar. Pada Level 2, rentangnya menyusut menjadi Rp500 juta, yaitu dari Rp750 juta sampai dengan Rp1,25 miliar. Pada Level 3, rentangnya tinggal Rp200 juta, dari Rp900 juta sampai dengan Rp1,1 miliar. Perbandingan tersebut dapat dibaca seperti ini. Pada Level 1, hasil sebenarnya masih mungkin meleset sampai separuh dari angka perkiraan. Sedangkan pada Level 3, selisih yang mungkin terjadi menyusut menjadi sekitar sepersepuluh angka perkiraan, yaitu Rp100 juta dari estimasi Rp1 miliar.

Menghubungkan lebar rentang dengan keputusan pemilihan level

Lebar rentang menentukan jenis keputusan yang aman diambil. Perubahan jadwal operasi kompresor hampir tidak memerlukan biaya. Apabila penghematan ternyata hanya Rp500 juta, perusahaan tetap untung karena tidak ada modal yang dikeluarkan. Rentang selebar Rp1 miliar tidak menjadi masalah pada kasus ini. Sementara itu penggantian sistem Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC) memerlukan modal belasan miliar rupiah. Perhitungan kelayakannya disusun dengan asumsi penghematan Rp1 miliar per tahun. Apabila hasil sebenarnya ternyata Rp500 juta, periode pengembalian modal menjadi 2 kali lebih lama daripada yang dijanjikan dalam rencana. Pada kasus ini, rentang Level 1 terlalu lebar dan perusahaan memerlukan hasil Level 2 atau Level 3.

Perlu dicatat

Deviasi berlaku pada dua hal sekaligus, yaitu estimasi penghematan dan estimasi biaya investasi. Apabila penghematan berada di batas bawah dan biaya berada di batas atas, periode pengembalian modal dapat berubah dari 3 tahun menjadi 6 tahun.

Level 1: Deviasi ±30% sampai dengan ±50%

Pada level ini, auditor menelaah rekening energi selama 12 bulan terakhir, mengamati peralatan utama secara langsung, dan mewawancarai operator serta manajer fasilitas. Pengukuran dengan alat dilakukan sangat terbatas atau tidak dilakukan sama sekali. Karena sebagian besar perhitungan bersandar pada data historis dan asumsi teknis, hasilnya menunjukkan area mana yang boros tanpa merinci penyebabnya. Level 1 sesuai untuk fasilitas yang belum pernah diaudit atau untuk perusahaan yang perlu menentukan gedung mana di antara belasan asetnya yang layak diperiksa lebih dalam.

Level 2: Deviasi ±15% sampai dengan ±25%

Auditor memasang alat ukur pada titik-titik yang paling banyak mengonsumsi energi, menyusun neraca energi untuk sistem termal dan sistem listrik, menganalisis pola pemakaian harian, dan mengevaluasi kualitas daya listrik. Setiap peluang penghematan dihitung satu per satu, lengkap dengan perkiraan biaya dan periode pengembalian modalnya. Sebagian asumsi pada Level 1 digantikan oleh hasil pengukuran, sehingga deviasi menyempit. Rentang ini cukup untuk menyusun anggaran belanja modal tahunan. Level 2 juga umumnya memadai untuk memenuhi kewajiban pelaporan manajemen energi menurut Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 8 Tahun 2025.

Level 3: Deviasi ±5% sampai dengan ±10%

Auditor memasang perekam data (data logger) yang bekerja selama berminggu-minggu, membangun model simulasi yang disesuaikan dengan konsumsi di lapangan, dan meminta penawaran harga dari pemasok untuk setiap peralatan yang direkomendasikan. Perhitungan biaya dilakukan sepanjang umur pakai peralatan melalui analisis biaya daur hidup (Life Cycle Cost Analysis atau LCCA). Hampir seluruh perhitungan berasal dari data terukur. Tingkat kepastian ini yang membuat Level 3 disebut audit berkualitas investasi (investment-grade audit) dan menjadi syarat dalam kontrak kinerja energi maupun pengajuan pembiayaan hijau.

Aspek

Level 1

Level 2

Level 3

Deviasi penghematan dan biaya

±30% s.d. ±50%

±15% s.d. ±25%

±5% s.d. ±10%

Estimasi Rp1 miliar menjadi

Rp500 juta – Rp1,5 miliar

Rp750 juta – Rp1,25 miliar

Rp900 juta – Rp1,1 miliar

Sumber data utama

Rekening energi dan pengamatan

Pengukuran di titik utama

Perekaman berkelanjutan dan simulasi

Kegunaan hasil

Menyaring peluang

Menyusun anggaran

Mengajukan pembiayaan

 

Penyebab deviasi menyempit

Perbedaan ketiga level terletak pada perbandingan antara data terukur dan data asumsi. Level 1 banyak menggunakan asumsi. Level 2 mengganti sebagian asumsi dengan hasil pengukuran. Level 3 merekam variasi operasional sepanjang waktu, sehingga asumsi yang tersisa tinggal sedikit. Semakin banyak variabel yang diukur secara langsung, semakin sempit kemungkinan hasil meleset.

Asal-usul angka deviasi

Persentase di atas berasal dari praktik yang berkembang mengikuti ANSI/ASHRAE/ACCA Standard 211, standar audit energi bangunan komersial terbitan American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers (ASHRAE). Standar ISO 50002-1:2025 dari International Organization for Standardization (ISO) mendefinisikan ketiga level audit, tanpa mencantumkan angka toleransi. Sebagian literatur menuliskan Level 3 pada kisaran ±10% sampai dengan ±15%. Karena itu, angka deviasi perlu dibaca sebagai kisaran praktik yang lazim. Hasil akhirnya tetap bergantung pada kelengkapan dan kualitas data yang tersedia di fasilitas.

Menentukan level yang tepat

Berapa nilai investasi yang akan dikeluarkan dan seberapa besar dampaknya apabila estimasi meleset?

Fasilitas yang baru memulai program efisiensi energi cukup menggunakan Level 1. Perusahaan yang sudah mengetahui peluangnya dan sedang menyusun anggaran memerlukan Level 2. Organisasi yang menyiapkan investasi besar dengan pendanaan pihak ketiga membutuhkan Level 3. Enthalphy sebagai konsultan yang melayani audit energi dapat menimbang ketiga pilihan tersebut bersama mitra secara terbuka, termasuk ketika kesimpulannya mengarah pada level yang paling sederhana.


Klik di sini untuk mempelajari flyer layanan Audit Energi dari Enthalphy!

 

Sumber rujukan

  • ISO 50002-1:2025, Energy audits. Part 1: General requirements with guidance for use, International Organization for Standardization.
  • ANSI/ASHRAE/ACCA Standard 211-2018 (R2023). Standard for Commercial Building Energy Audits.
  • Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 8 Tahun 2025 tentang Manajemen Energi.
  • Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2023 tentang Konservasi Energi.

 

Artikel Lainnya

Our Sincere Thanks to Our Client

Let’s Get Your Project Started!

Contact With Us
Gambar Mobile Gambar Desktop

Let’s Get Your Project Started!

Contact With Us